Salatiga, Kamis 27 Maret 2025 – Dian Indrihartini, S.Sos., M.Pd. menjadi penceramah dalam lanjutan kegiatan Kultum Ramadan SMA Negeri 3 Salatiga yang dilaksanakan di ruang guru. Dengan gaya yang komunikatif dan penuh makna, beliau menyampaikan tema seputar pentingnya menjaga lisan, semangat kedermawanan, dan menunaikan zakat sebagai bentuk ibadah sosial.
Mengawali kultum dengan pantun khas Ramadan,
“Pergi ke Madura naik perahu, membeli madu. Mari tingkatkan ibadah, raih ridho Allah yang selalu menunggu,”
Beliau mengingatkan bahwa kebaikan tidak boleh terhambat rasa malu, mengutip sabda Rasulullah:
“Khoirunnas anfa’uhum linnas – Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Dian juga mengangkat peran perempuan dan ibu dalam pendidikan karakter, dengan menukil pepatah Arab:
“Al-Ummu madrasatun ula, idza a’adadtaha a’dadta sya’ban thayyiban al-iraq – Ibu adalah madrasah pertama, jika engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi yang baik.”
Mengutip QS. An-Nisa: 9,
“Dan hendaklah mereka takut kepada Allah, yang jika mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, mereka khawatir terhadap kesejahteraannya, maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara dengan tutur kata yang benar.”
Dian menekankan pentingnya menjaga lisan agar tidak melukai,
“Jika pedang melukai tubuh, maka lisan dapat melukai hati. Maka kepada Allah SWT-lah tempat kita mengadu,” tegasnya.
Pada sesi berikutnya, Dian mengulas QS. Al-Baqarah: 267,
“Hai orang-orang yang beriman! Nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu,” sebagai landasan spiritual kewajiban menunaikan zakat.
Dian membagikan pengalaman pribadinya saat menjadi Kepala SMA Muhammadiyah Salatiga, di mana ia pernah menampung puluhan siswa di rumah pribadinya, sebagai bentuk nyata kedermawanan dan pendidikan karakter.
Ia menambahkan bahwa zakat memiliki lima fungsi utama:
Membersihkan harta dan jiwa
Mengurangi kesenjangan sosial
Meningkatkan solidaritas dan kepedulian
Membahagiakan fakir miskin menjelang Idulfitri
Mengokohkan rasa persaudaraan umat
Meskipun kebaikan tak jarang disalahpahami atau bahkan dibully, Dian menegaskan bahwa berbuat baik tak perlu menunggu pengakuan manusia.
“Sosiologi adalah ilmu berteman. Dengan zakat dan kepedulian sosial, kita belajar menyatu dengan masyarakat dan memahami mereka,” pungkasnya.
Harmoni Iman di Perpustakaan SMA Negeri 3 Salatiga
Di tengah kekhusyukan bulan suci Ramadan, semangat toleransi dan kerukunan antarumat beragama begitu terasa di SMA Negeri 3 Salatiga. Saat para guru dan karyawan muslim mengikuti rangkaian kegiatan Kultum Ramadan, para guru dan karyawan non-muslim, baik Kristen maupun Katolik, juga melaksanakan kegiatan kerohanian keagamaan secara mandiri di ruang perpustakaan sekolah.
Perpustakaan yang biasanya menjadi pusat literasi, hari itu berubah menjadi ruang doa dan permenungan yang damai. Tanpa sekat, tanpa prasangka—inilah wujud nyata dari semangat "Bhineka Tunggal Ika" yang hidup dalam keseharian sekolah.
Kegiatan ini tidak hanya mencerminkan toleransi beragama, tapi juga menguatkan komitmen bersama untuk membangun lingkungan pendidikan yang inklusif, saling menghormati, dan mempererat persaudaraan lintas iman.
Di bulan suci yang penuh keberkahan ini, SMA Negeri 3 Salatiga menunjukkan bahwa meski berbeda dalam keyakinan, kita bisa bersatu dalam semangat kebajikan, pendidikan, dan cinta damai. 🌈
0 Komentar